KUALITAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
DI INDONESIA
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tingkat keberhasilan pembangunan nasional Indonesia di segala bidang akan sangat bergantung pada sumber daya manusia sebagai aset bangsa. Untuk mengoptimalkan dan memaksimalkan perkembangan seluruh sumber daya manusia yang dimiliki, dilakukan melalui pendidikan, baik melalui jalur pendidikan formal maupun jalur pendidikan non formal. Perkembangan dunia pendidikan saat ini sedang memasuki era yang ditandai dengan gencarnya inovasi teknologi, sehingga menuntut adanya penyesuaian sistem pendidikan yang selaras dengan tuntutan dunia kerja.
Pendidikan harus mencerminkan proses memanusiakan manusia dalam arti mengaktualisasikan semua potensi yang dimilikinya menjadi kemampuan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari - hari di masyarakat luas. Salah satu lembaga pada jalur pendidikan formal yang menyiapkan lulusannya untuk memiliki keunggulan di dunia kerja, diantaranya melalui jalur pendidikan kejuruan. Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) dirancang untuk menyiapkan peserta didik atau lulusan yang siap memasuki dunia kerja dan mampu mengembangkan sikap profesional di bidangnya. Namun Sekolah Menengah Kejuruan dituntut bukan hanya sebagai penyedia tenaga kerja yang siap bekerja pada lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha / dunia industri, tetapi juga dituntut untuk mengembangkan diri pada jalur wirausaha, agar dapat maju dalam berwirausaha walaupun dalam kondisi dan situasi apapun.
Saat ini SMK sedang gencar – gencarnya digalakkan oleh pemerintah. Kebijakan ini ditempuh setelah melihat kenyataan bahwa 65 % penganggur terdidik adalah lulusan pendidikan menengah, yang dapat diartikan sebagai kurangnya keterampilan lulusan pendidikan menengah untuk masuk lapangan kerja. SMK kelompok program keahlian pariwisata adalah salah satu program keahlian yang diprediksikan oleh Dikmenjur akan berkembang pesat untuk jangka waktu yang panjang. Pariwisata sekarang ini merupakan suatu tuntutan hidup, yakni untuk menghilangkan kejenuhan dari rutinitas pekerjaan. Permintaan orang untuk melakukan perjalanan wisata, dari tahun ke tahun terus meningkat. Peningkatan permintaan tersebut dapat dilihat dari angka kunjungan wisata yang semakin bertambah dari tahun ke tahun.
Pendidikan memiliki nilai yang strategis dan urgen dalam pembentukan suatu bangsa. Pendidikan itu juga berupaya untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa tersebut. Sebab lewat pendidikanlah akan diwariskan nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh bangsa tersebut, karena itu pendidikan tidak hanya berfungsi untuk how to know, dan how to do, tetapi yang amat penting adalah how to be, bagaimana supaya how to be, terwujud maka diperlukan transfer budaya dan kultur.
Oleh karena itu pentingnya masalah yang berkenaan dengan pendidikan maka perlu diatur suatu aturan yang baku mengenai pendidikan tersebut, yang dipayungi dalam system pendidikan nasional. System pendidikan nasional adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional.
1
1.2 Masalah
Pada makalah ini akan dbahas mengenai masalah kualitas pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan.
1.3 Identifikasi masalah
Pada makalah ini akan di bahas mengenai kualitas Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan.
Antara lain :
1.Faktor yang mempengaruhi kualitas Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan,
2.Bagaimana Kualitas dan Kuantitas pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan,
3.Pencapaian atau prestasi apa saja yang diperoleh,
4.Perbandingan antara Sekolah Menengah Kejuruan dan Sekolah Menengah Atas.
1.4 Pembatasan Masalah
Dalam makalah ini hanya akan dibahas mengenai kualitas dan kuantitas pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan ,faktor apa saja yang mempengaruhi,pencapaian apa saja yang sudah didapat,serta per bandingan antara SMK dan SMA.
2
BAB II PEMBAHASAN
Indonesia sangat memerlukan pendidikan kejuruan yang banyak dan bermutu, menyangkut berbagai cabang profesi. Selain itu lulusan Pendidikan Menengah kejuruan memang tidak langsung masuk ke Pendidikan Tinggi setelah lulus SMK. Akan tetapi setelah menjalankan pekerjaannya seorang lulusan SMK yang berminat melanjutkan ke Pendidikan Tinggi dapat melakukan itu dengan memenuhi syarat yang ditetapkan Pendidikan Tinggi. Sistem pendidikan sekolah harus bersifat terbuka dan memberikan kemungkinan kepada siapa saja memasuki Pendidikan Tinggi, asalkan memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan. Dalam syarat itu faktor pengalaman bekerja tidak dapat diabaikan dan harus pula diperhitungkan sebagai faktor yang meningkatkan kemampuan orang tersebut. Di Jerman seorang yang cukup lama bekerja di pabrik dan menunjukkan prestasi tinggi dalam pekerjaannya, tanpa mempunyai ijazah Abitur (tanda lulus gymnasium) dapat masuk pendidikan tinggi setelah melewati beberapa syarat.Maka tidak benar untuk menganggap pendidikan kejuruan lebih rendah dari pendidikan akademis. Yang benar adalah bahwa setiap pendidikan mempunyai fungsinya sendiri bagi kehidupan bangsa. Dan jelas bahwa bangsa Indonesia sangat memerlukan pendidikan kejuruan yang luas dan bermutu agar dapat mengembangkan daya saing tinggi dalam era globalisasi.
SMK merupakan sebutan kumpulan pendidikan bagi aneka ragam kejuruan. Di SMK dapat diadakan pendidikan untuk kejuruan ekonomi (yang dulu di Sekolah Dagang dan SMEA), teknik (dulu Sek. Teknik), rumahtangga (dulu SKP), kepariwisataan dan lainnya. Akan tetapi para pengarah pendidikan tidak memasukkan pendidikan guru dalam SMK, sekalipun dulu ada SGA, SGPD dan lainnya. Mereka berpendapat bahwa pendidikan guru harus masuk pendidikan tinggi dan bukan pendidikan menengah.SMK mempunyai fungsi penting untuk mendidik dan membentuk kader tingkat menengah bagi berbagai kegiatan produksi bangsa. Maka boleh dikatakan bahwa produktivitas Indonesia sangat tergantung kemampuan SMK membentuk kader itu.Dalam kenyataan hingga belum lama ini SMK kurang dapat memenuhi tuntutan itu secara memuaskan, kecuali beberapa SMK yang lulusannya dicari dan diburu oleh banyak perusahaan. Pada umumnya SMK dinilai kurang dapat memberikan kecakapan kejuruan yang diperlukan dunia industri. Bahkan ada perusahaan yang memilih merekrut lulusan SMA dan kemudian dilengkapi dengan latihan sendiri dalam perusahaan, ketimbang merekrut lulusan SMK.Kalau hal ini tidak diperbaiki, maka mayoritas SMK hanya merupakan pemborosan uang dan waktu belaka yang sangat merugikan masyarakat dan anak didik. Sebab itu sudah sangat jauh waktunya untuk membawa SMK melaksanakan fungsinya yang sebenarnya. Hasil didiknya harus menjadi tumpuan produktivitas perusahaan yang dicari oleh banyak perusahaan..Untuk meningkatkan mutu SMK harus ada syarat bahwa untuk lulus SMK murid itu harus menempuh dan lulus ujian dalam kejuruannya. Ujian ini dilakukan Asosiasi Profesi bersangkutan (sebagai anggota Kamar Dagang dan Industri, KADIN) bersama Pemerintah Pusat. Maka ujian ini dapat disamakan dengan Ujian Nasional bagi murid SMA. Hasil lulus ujian itu memberikan kepada lulusan SMK satu ijazah atau certificate yang dikeluarkan Asosiasi Profesi tersebut. Dengan ijazah itu lulusan SMK dapat diterima perusahaan yang memerlukan keahliannya di mana saja, bahkan di luar Indonesia kalau Asosiasi Profesi itu anggota Asosiasi Profesi Internasional atau ASEAN.
4
Semua SMK dengan begitu dimotivasi dan didorong untuk mendidik dan membentuk muridnya sesuai dengan syarat-syarat yang diletakkan Asosiasi Profesi. Karena memiliki ijazah Asosiasi Profesi berarti jaminan mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kecakapan serta mendapat penghasilan yang memadai. Makin banyak lulusannya memenuhi tuntutan itu, makin tinggi penilaian umum terhadap SMK tersebut. Sekarang sudah ada beberapa SMK dengan kemampuan demikian, seperti SMK jurusan teknik milik kaum Katolik di Solo, SMK yang diselenggarakan PT PAL di Sidoarjo, SMK jurusan pariwisata di Bali. Tetapi mayoritas SMK masih harus berbenah diri untuk mencapai kondisi itu.Pendidikan SMK yang bertitikberat pada pembentukan kecakapan kejuruan tidak boleh mengabaikan hal-hal yang pada umumnya juga diperlukan seorang untuk bekerja baik. Sebab itu pembentukan karakter seperti telah diuraikan dalam penyelenggaraan SMA, juga berlaku di SMK, yaitu kemampuanb berpikir, berbuat dan berperasaan. Penguasaan bahasa juga penting bagi lulusan SMK, baik bahasa Indonesia, Inggeris dan asing lainnya. Kegiatan ekstra-kurikuler juga perlu dikembangkan, sebagaimana di SMA. Meskipun mungkin cabang kegiatan tidak seperti SMA. Olahraga penting dalam kegiatan ini, mungkin juga kegiatan bahasa. Namun hal-hal yang bersangkutan dengan profesi harus mendapat perhatian lebih banyak di SMK.
UUSPN No. 20 tahun 2003 pasal 15, menyatakan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk menyiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Tujuan tersebut dapat dijabarkan lagi oleh Dikmenjur (2003) menjadi tujuan umum dan tujuan khusus, sebagai berikut :Tujuan umum, sebagai bagian dari sistem pendidikan menengah kejuruan SMK bertujuan : (1) menyiapkan peserta didik agar dapat menjalani kehidupan secara layak, (2) meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik, (3) menyiapkan peserta didik agar menjadi warga negara yang mandiri dan bertanggung jawab, (4) menyiapkan peserta didik agar memahami dan menghargai keanekaragaman budaya bangsa Indonesia, dan (5) menyiapkan peserta didik agar menerapkan dan memelihara hidup sehat, memiliki wawasan lingkungan, pengetahuan dan seni.
Tujuan khusus, SMK bertujuan : (1) menyiapkan peserta didik agar dapat bekerja, baik secara mandiri atau mengisi lapangan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah, sesuai dengan bidang dan program keahlian yang diminati, (2) membekali peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetensi dan mampu mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminati, dan (3) membekali peserta didik dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) agar mampu mengembangkan diri sendiri melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Kompetensi lulusan pendidikan kejuruan sebagai subsistem dari sistem pendidikan nasional menurut Depdikbud (2001) adalah : (1) penghasil tamatan yang memiliki keterampilan dan penguasaan IPTEK dengan bidang dari tingkat keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, (2) penghasil tamatan yang memiliki kemampuan produktif, penghasil sendiri, mengubah status tamatan dari status beban menjadi aset bangsa yang mandiri, (3) penghasil penggerak perkembangna industri Indonesia yang kompetitif menghadapi pasar global, (4) penghasil tamatan dan sikap mental yang kuat untuk dapat mengembangkan dirinya secara berkelanjutan. Dikmenjur (2000) mengatakan bahwa hasil kerja pendidikan harus mampu menjadi pembeda dari segi unjuk kerja, produktifitas, dan kualitas hasil kerja dibandingkan dengan tenaga kerja tanpa pendidikan kejuruan.
Jadi pendidikan kejuruan adalah suatu lembaga yang melaksanakan proses pembelajaran keahlian tertentu beserta evaluasi berbasis kompetensi, yang mempersiapkan siswa menjadi tenaga kerja setingkat teknisi.
5
Peningkatan mutu SMK juga banyak tergantung Pemerintah, Pusat maupun Daerah, karena kurang ada perhatian yang memadai terhadap SMK, sebagaimana sudah diuraikan di atas. Keadaan itu menimbulkan suasana seakan-akan SMK adalah pendidikan kelas buntut, karena yang diperhatikan hanya SMA dan SMP. Padahal untuk keperluan masa depan bangsa SMK mempunyai peran yang amat penting. Sebab itu di samping harus peningkatan kualitas juga harus lebih banyak SMK dibuka oleh Pemerintah dan swasta. Ini sangat berpengaruh terhadap produksi nasional dan daya saing Indonesia di dunia internasional. Karena penyelenggaraan SMK memerlukan investasi dan biaya operasi yang tidak sedikit, maka dalam kondisi masyarakat Indonesia sekarang tidak dapat diharapkan pihak Swasta membuka SMK kecuali mereka yang kuat modalnya. Sebab itu Pemerintah, baik Pusat dan Daerah, harus lebih banyak membuka SMK.
Untuk menentukan kelulusan, siswa SMK diharuskan menempuh ujian kompetensi, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pencapaian siswa selama belajar di SMK. Dengan diadakannya ujian kompetensi pada siswa SMK, yang juga melibatkan dunia industri sebagai penguji eksternal, diharapkan itu sebagai tes awal terhadap sisa sebelum masuk ke dunia industri. Ujian kompetensi juga bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan itu sendiri dengan cara mendengar masukan dari dunia industri.Hendaknya pemerintah Indonesia membangun kerjasama yang sinergis dengan dunia industri. Sehingga kurikulum yang diterapkan di SMK itu sama dengan kebutuhan yang ada di dunia industri, sehingga lulusan SMK dapat langsung menjadi tenaga yang produktif dan siap pakai. Pemerintah Indonesia harus fokus pada SMK, bukan hanya gencar membangun dan mendirikan sekolah-sekolah baru, tapi juga merancang kuriklum yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri. SMK sekarang seperti hanya jadi anak tiri dari pemerintah, mereka hanya fokus pada SMA, padahal banyak lilusan SMA yang jadi pengangguran karena tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi.
VISI : Terwujudnya SMK bertaraf internasional, menghasilkan tamatan yang memiliki jati diri bangsa, mampu mengembangkan keunggulan lokal dan bersaing di pasar global
MISI
- Meningkatkan Profesionalisme dan Good Governance SMK sebagai Pusat Pembudayaan Kompetensi
- Meningkatkan Mutu Penyelenggaraan Pendidikan (8 SNP)
- Membangun dan memberdayakan SMK Bertaraf Internasional sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki jati diri bangsa dan keunggulan kompetitif di pasar nasional dan global.
- Memberdayakan SMK untuk Mengembangkan Potensi Lokal menjadi Keunggulan Komparatif
- Memberdayakan SMK untuk Mengembangkan Kerjasama dengan Industri, PPPG, LPMP, dan Berbagai Lembaga Terkait
- Meningkatkan Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Kejuruan yang Bermutu
TUJUAN
- Mewujudkan Lembaga Pendidikan Kejuruan yang akuntabel sebagai Pusar Pembudayaan Kompetensi Berstandar Nasional
- Mendidik Sumber Daya Manusia yang mempunyai etos kerja dan kompetensi berstandar internasional
6
- Memberikan berbagai layanan Pendidikan Kejuruan yang permeabel dan flesibel secara terintegrasi antara jalur dan jenjang pendidikan
- Memperluas layanan dan pemerataan mutu pendidikan kejuruan
- Mengangkat keunggulan lokal sebagai modal daya saing bangsa
Filosofi Pendidikan Kejuruan
Filosofi adalah apa yang diyakini sebagai suatu pandangan hidup yang diianggap benar dan baik. Dalam pendidikan kejuruan ada dua aliran filosofi yang sesuai dengan keberadaanya, yaitu eksistensialisme dan esensialisme.
Eksistensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi manusia untuk bertahan hidup, bukan merampasnya. Sedangkan esensialisme berpandangan bahwa pendidikan kejuruan harus mengaitkan dirinya dengan sistem-sistem yang lain seperti ekonomi, politik, sosial, ketenaga kerjaan serta religi dan moral.
B.Tujuan pendidikan kejuruan
Tujuan pendidikan kejuruan di Indonesia masih mendua, di satu sisi menyiapkan peserta didik memasuki dunia kerja, di sisi lain melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi.
Akibatnya lulusan sekolah menengah kejuruan tidak sepenuhnya memfokuskan perhatian untuk memasuki dunia kerja. Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang spesifik, demokratis, dapat melayani berbagai kebutuhan individu.
Program pendidikan kejuruan tidak hanya menyiapkan peserta didik memasuki dunia kerja, tetapi juga menempatkan lulusannya pada pekerjaan tertentu.
C. Sistem pendidikan kejuruan di Indonesia
Untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian sumber daya manusia, perlu perubahan kebijaksanaan berkenaan dengan pendidikan kejuruan. Upaya-upaya itu antara lain perubahan dari sistem pendidikan supply-driven atas kebutuhan masyarakat luas ke sistem pendidikan demand-driven yang dipandu oleh kebutuhan pasar kerja, perubahan dari sistem pendidikan yang berbasis sekolah dengan pemberian ijazah ke sistem pendidikan yang memberikan kompetensi sesuai dengan standar nasional yang baku.Salah satu upaya peningkatan keterampilan dan keahlian sumber daya manusia yang dikembangkan adalah sistem pendidikan kejuruan berdasarkan kompetensi yang dipacu oleh kebutuhan pasar. Pengembangan sistem ini didasarkan kepada asumsi bahwa sistem pendidikan kejuruan supply-driven yan diterapkan selama ini tidak dapat memenuhi kebutuhan pelanggan, baik pelanggan masa kini maupun pelanggan maa depan.Sistem pendidikan berdasarkan kompetensi mengupayakan agar keluaran dari suatu lembaga pendidikan kejuruan memiliki keterampilan dan keahlian yang relevan dengan kebutuhan pasar. Upaya ini dilakukan dengan mengembangkan suatu standar kompetensi dengan masukan dari industri dan badan usaha lain. Standar kompetensi yang dihasilkan selanjutnya digunakan sebagai pemberian sertifikat kompetensi.
7
Dengan demikian maka sistem pendidikan kejuruan yang dikembangkan mempunyai ciri, di samping mengacu pada profesi dan keterampilan yang baku, juga dipandu oleh kebutuhan pasar kerja yang nyata.Sistem pendidikan yang dikembangkan berfokus tidak hanya pada pendidikan formal. Tetapi juga meliputi non-formal. Ada tiga jenis siswa yang merupakan sasaran sistem pendidikan kejuruan yang harus dikembangkan; yaitu siswa sekolah kejuruan formal, para karyawan yang sudah bekerja, dan para generasi muda calon pekerja. Standar kompetensi digunakan sebagai ukuran untuk menilai tingkat keterampilan dan profesionalisme ketiga jenis siswa tanpa memandang darimana dan bagaimana diperoleh, baik melalui lembaga pendidikan formal , pendidikan luar sekolah ( off job training) atau pelatihan sambil bekerja (on the job training). Setiap individu dapat menempuh ujian di lembaga yang telah ditentukan dan memperoleh sertifikat kompetensi sesuai dengan keterampilan yang dimiliki, Untuk lembaga pendidikan kejuruan formal, kepada para lulusan akan diberikan sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat keterampilan dan keahlian yang dimiliki, disamping Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) yang selama ini diberikan. Sertifikat kompetensi yang telah dimiliki oleh seseorang akan digunakan sebagai dasar untuk pengembangan kompetensi ke tinkat selanjutnya.
Lembaga pendidikan luar sekolah ( off the job training), atau lembaga pelatihan sambil bekerja ( on the job training) mengacu pada standar kompetensi yang baku. Sistem juga memberi penghargaan kemampuan awal sebelum memasuki suatu program pendidikan. Hal ini dilakukan dengan melakukan transfer kredit. Dengan demikian, untuk memasuki suatu program tertentu seorang siswa hanya perlu menambah kekurangan keterampilan dan pengetahuannya saja melalui bridging course atau bridging training. Dengan sistem ini, seorang yang berdasarkan pengalaman dan hasil uji kompetensi yang dilakukan, telah memiliki keterampilan dan keahlian tertentu dapat memasuki suatu program dengan tidak harus menempuh pelajaran yang tidak dikuasai.
Untuk menjadi tenaga kerja yang profesional, siswa tidak hanya perlu memiliki pengetahuan dan keerampilan, tetapi perlu memiliki kiat ( arts). Pengetahuan dan keterampilan dapat dipelajari dan dilatih di sekolah, akan tetapi unsur kiat hanya dapat dikuasai melalui proses pembiasan dan internalisasi. Sekolah pada umumnya hanya dapat memberikan berbagai keterampilan dan pengetahuan dalam bentuk simulasi sehingga tidak mungkin diharapkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang profesional. Oleh karena itu, diperlukan suatu kerjasama yang erat antara sekolah dan industri, baik dalam perencanaan dan penyelenggaraan, maupun dalam pengolalaan pendidikan.Sehubungan dengan itu perlu dikembangkan suatu sistem pendidikan kejuruan yang disebut sistem ganda.Pendidikan sistem ganda adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program program pengusaan keahlian yang diperoleh melalui bekerja langsung di dunia kerja, dan terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu.Dalam PSG, lembaga pendidikan atau lembaga pelatihan lainnya dan industri secara bersama-sama menyelenggarakan suatu program pendidikan atau program pelatihan mulai dari perencanaan, penyelenggaraan, dan penilaian, sampai dengan upaya penempatan lulusan.
8
Penaturan penyelenggaraan program kapan diselenggarakan di sekolah dan kapan diselenggarakan di industri dapat mempergunakan hour release, day release, atau block release.Komponen pendidikan Normatif, Adaftif, dan sub komponen Teori Kejuruan diselenggarakan di sekolah sedangkan subkomponen Praktek Keahlian Produktif diselenggarakan di industri. Subkomponen Praktek Dasar Kejuruan dapat dilaksanakan di sekolah atau industri.
Dalam era pasar setiap industri akan mengupayakan nilai tambah terhadap produksinya dan ini akan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi-teknologi tinggi. Sementara itu, teknologi itu sendiri berkembang secara terus menerus. Para ahli melaporkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berubah 15 % setiap tahun dan perubahan ini akan meningkat menjadi 2 kali lipat dalam lima tahun. Suatu hal yang perlu difahami bahwa teknologi tinggi tidak dapat memberikan nilai tambah terhadap upaya manusia.. Hanya manusialah yang dapat menghasilkan nilai tambah dengan memanfaatkan bantuan teknologi. Oleh karena itu,kepada siswa perlu ditanamkan pemahaman yang mendasar akibat hakekat teknologi dan rasa ingin mendapatkan nilai tambah terhadap setiap upaya yang dilakukan dengan bantuan teknologi.Tanpa sikap ini maka akan terbentuk suatu bangsa yang sekaligus tenaga kerja, yang apatis terhadap perubahan teknologi dan merasa teknologi sebagai milik suatu kelompok atau bangsa elit tertentu. Pendidikan teknologi merupakan bagian yang sangat penting dalam membentuk warga negara.Sesungguhnya, penerapan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di SMK telah berjalan sejak tahun 1993/1994 hingga sekarang. Sistem ini merupakan implementasi dari konsep mitch and match. Dengan PSG, perancangan kurikulum, proses pembelajaran, dan penyelenggaraan evaluasinya didesain dan dilaksanakan bersama-sama antara pihak sekolah dan industri. Diharapkan nantinya para lulusan SMK akan menjadi para lulusan yang siap kerja. Melalui PSG, siswa belajar di dua tempat, yaitu sekolah dan industri.Di sekolah, para siswa belajar teori dari para guru atau instruktur yang kegiatannya yang pada umumnya dibiayai pemerintah. Sedangkan kegiatan belajar yang diselenggarakan di perusahaan/industri, artinya para siswa ini belajar dan mendapatkan pelatihan praktik dari para instruktur dari pihak sekolah yang bersangkutan. Pembiayaannya dilakukan oleh perusahaan terkait.
Dalam konteks ini, bisa dikatakan bahwa sekolah melakukan semacam outsourcing yang dikerjakan oleh industri dalam bentuk penyediaan alat, instruktur, dan pengalaman praktik di lapangan. Sedangkan industri melihat sekolah sebagai bagian dari Human Resources Development (HRD) atau sumber daya manusia perusahaannya yang mencetak tenaga ahli yang andal dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Untuk memuluskan kerjasama antar sekolah dan industri dalam penyelenggaraan PSG, MPKN tingkat provinsi yang beranggotakan unsur-unsur dari kedua belah pihak, berfungsi menjembataninya. Melalui kelompok-kelompok bidang keahliannya, MPKN membantu SMK dalam mengembangkan standar penyelenggaraaan pendidikan dan pelatihan, maupun bahan ajar yang diperlukan.
9
Pada awalnya bagi para siswa SMK, diberlakukan masa praktik kerja industri selama 3 bulan. Namun menurut Gatot, hasil dan prosesnya dinilai kurang efisien dan terlalu sebentar. Maka, mulai tahun 1999 hingga sekarang, diterapkan masa praktik kerja industri selama 6 bulan. Malah, sebenarnya waktu 6 bulan ini juga masih dirasa cukup singkat bagi proses praktik kerja industri. Gatot membandingkannya dengan sistem pendidikan kejuruan yang ada di . Jerman. Dalam sepekan, selama 2 hari anak-anak mendapatkan teori di kelas, sedangkan tiga hari berikutnya kegiatan pembelajaran berlangsung di industri. Mungkin, di Indonesia masih perlu berubah setahap demi setahap.
Setelah pemberlakuan masa praktik kerja yang diperpanjang menjadi 6 bulan, proses ini juga memudahkan para siswa untuk memperoleh peluang praktik kerja ke luar negeri. Kegiatan praktik kerja di luar negeri ini telah dilakukan sejak tahun 1999. Pada mulanya, Direktorat Pendidikan Menengah dan Kejuruan (Dikmenjur) mengirimkan 200 kepala sekolah SMK untuk melakukan studi banding ke Malaysia. Berikutnya, giliran para siswanya yang diberangkatkan magang ke luar negeri. Di tahun yang sama, sekitar 400 siswa SMK berangkat praktik kerja ke luar negeri. Hingga perkembangannya sampai dengan tahun 2004, telah ada sekitar 2.000 siswa SMK seluruh Indonesia yang dikirim ke Malaysia. 80% nya melakukan praktik kerja di bidang perhotelan dan pariwisata.
Negara tujuannya tak hanya sebatas Tanah Melayu Malaysia, melainkan juga ke negara-negara lain misalnya ke Singapura, Jepang, Inggris, Jerman, Oman, dan Kuwait. Saat itu, Gatot Hari Priowirjanto berharap, pada tahun 2020 nanti sebanyak 10% dari bisnis hotel dan pariwisata di dunia, tenaga kerjanya berasal dari Indonesia. “Ini memang sebuah mimpi besar. Dan kita harus menyiapkannya secara serius,” ucapnya. Selain memfasilitasi para siswa SMK melakukan praktik kerja di luar negeri, Direktorat Dikmenjur juga mendorong dan memberi kesempatan bagi para guru, kepala sekolah, pejabat Dinas Pendidikan dan pengajaran di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk ikut memperluas pengetahuan konsep penyelenggaraan pendidikan kejuruan di luar negeri.
Kini setiap tahun, Direktorat Dikmenjur telah mengirim 100 sampai 200 pejabat terkait dengan penyelenggaraan pendidikan kejuruan untuk berangkat ke luar negeri. Mereka dikirim dalam beberapa gelombang, ke negara yang berbeda-beda, dengan biaya yang sebagian ditanggung oleh pemda masing-masing, sebagian lainnya ditanggung oleh Direktorat Dikmenjur.
Menginjak periode kepemimpinan Dr. Joko Sutrisno, Direktorat Dikmenjur (sejak 2005) lebih menyempurnakan desain reposisi pendidikan SMK melalui beberapa terobosan. Beberapa hal diantaranya adalah mengembangkan SMK bertaraf internasional dengan metode bilingual, pencitraan kredibilitas SMK melalui program sosialisasi, dan memenuhi kebutuhan peralatan produksi secara mandiri lewat unit produksi di masing-masing SMK.
Termasuk didalamnya, program penguatan pengetahuan eksakta/sains melalui peningkatan bobot jam belajar hingga 6 jam setiap minggunya bagi SMK jurusan elektronika, automotif dan jurusan eksaskta lainnya. Diharapkan, ini dapat membuka peluang seluas-luasnya bagi siswanya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, Direktorat Dikmenjur juga melakukan sertifikasi kompetensi untuk para lulusan SMK bidang otomotif, perhotelan, Teknologi Informasi, sekretaris, busana, dan tata boga.
10
Perkembangan reposisi terakhir, ada pada penguatan potensi lokal. Program Dikmenjur disesuaikan dengan kebijakan pemerintah. Kini, kebijakan Presiden menganjurkan untuk kembali ke potensi go green. “Kami beri nama program Agro Industri. Tahun 2008, melalui program ini kami akan membesarkan 20 SMK di seluruh Indonesia. Mereka akan diberikan program pengembangan untuk produksi pangan dengan bahan dasar lokal. Misalnya kripik pisang. Bukan roti karena selain bukan makanan tradisional orang Indonesia, bahan-bahannya juga masih import,” tuturnya.
Selain itu, Direktorat Dikmenjur juga mengarahkan praktek kerja industri untuk lebih memilih ke lokasi dalam negeri. Pertimbangannya adalah, untuk mendukung program penguatan ekonomi lokal dan potensi produksi pangan dalam negeri. “Ini juga supaya petani dan peternak di Indonesia memahami nilai ekonomi produk mereka. Jadi, mereka bersama para lulusan SMK bisa tingkatkan perekonomian di daerah masing-masing,” ucapnya berharap.
D. Karakteristik Pendidikan Kejuruan
Meskipun pendidikan kejuruan tidak terpisahkan dari sistim pendidikan secara keseluruhan, namun sudah barang tentu mempunyai kekhususan atau karakteristik tertentu yang membedakannya dengan pendidikan yang lain. Perbedaan ini tidak hanya dalam definisi, struktur organisasi dan tujuan pendidikannya saja, tetapi juga tercermin dalam aspek-aspek lain yang erat kaitannya dengan perencanaan kurikulum, yaitu :
1. Orientasi pendidikannya
Keberhasilan belajar berupa kelulusan dari sekolah kejuruan adalah tujuan terminal, sedangkan keberhasilan program secara tuntas berorientasi pada penampilan para lulusannya kelak dilapangan kerja
2. Justifikasi untuk eksistensinya
Untuk mengembangan PTK perlu alasan atau jastifikasi khusus yang ini tidak begitu dirasakan oleh pendidikan umum. Jastifikasi khusus adalah adanya kebutuhan nyata yang dirasakan di lapangan.
3. Fokus kurikulumnya
Stimuli dan pengalaman belajar yang disajikan melalui pendidikan kejuruan mencakup rangsangan dan pengalaman belajar yang mengembangkan domain afektif, kognitif dan psikomotor berikut paduan integralnya yang siap untuk dipadukan baik pada situasi kerja yang tersimulasi lewat proses belajar mapupun nanti dalam situasi kerja yang sebenarnya. Ini termasuk sikap kerja dan orientasi nilai yang mendasari aspirasi, motivasi dan kemampuan kerjanya.
11
4. Kriteria keberhasilannya
Berlainan dengan pendidikan umum, kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan kejuruan pada dasarnya menerapkan ukuran ganda yaitu in school succes dan out of school succes. Kriteria pertama meliputi aspek keberhasilan siswa dalam memenuhi persyaratan kurikuler yang sudah diorientasikan ke persyaratan dunia kerja, sedang kriteria yang kedua diindikasikan oleh keberhasilan atau penampilan lulusan setelah berada di dunia kerja yang sebenarnya.
5. Kepekaannya terhadap perkembangan masyarakat
Karena komitmen yang tinggi untuk selalu berorientasi ke dunia kerja, pendidikan kejuruan mempunya ciri lain berupa kepekaan atau daya suai yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat dan dunia kerja. Perkembangan ilmu dan teknologi pasang surutnya dunia suatu bidang pekerjaan, inovasi dan penemuan-penemuan baru di bidang produksi barang dan jasa, semuanya itu sangat besar pengaruhnya terhadap kecenderungan perkembangan pendidikan kejuruan.
6. Perbekalan logistiknya
Dilihat dari segi peralatan belajar, maka untuk mewujudkan situasi atau pengalaman belajar yang dapat mencerminkan situasi dunia kerja secara realistis dan edukatif diperlukan banyak
perlengkapan, sarana dan perbekalan logistik yang lain. Bengkel dan laboratorium adalah kelengkapan umum yang menyertai eksistensi suatu sekolah kejuruan.
7.Hubunganya dengan Masyarakat Dunia Usaha.
Hubungan lebih jauh dengan masyarakat yang mencakup daya dukung dan daya serap lingkungan yang sangat penting perannya bagi hidup dan matinya suatu lembaga pendidikan kejuruan. Perwujudan hubungan timbal balik yang menunjang ini mencakup adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculum advisory commite), kesediaan dunia usaha menampung anak didik sekolah kejuruan dalam program kerjasama yang memungkinkan kesempatan pengalaman belajar dilapangan.
E. Peningkatan mutu lulusanHubungan lebih jauh dengan masyarakat yang mencakup daya dukung dan daya serap lingkungan yang sangat penting perannya bagi hidup dan matinya suatu lembaga pendidikan kejuruan. Perwujudan hubungan timbal balik yang menunjang ini mencakup adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculum advisory commite), kesediaan dunia usaha menampung anak didik sekolah kejuruan dalam program kerjasama yang memungkinkan kesempatan pengalaman belajar dilapangan.
Kualitas SMK ditentukan setidaknya oleh mutu para lulusannya. Dukungan metode belajar mengajar juga jadi ujung tombaknya. Melihat latar belakang perkembangan kurikulumnya, tercatat bahwa pada kurikulum tahun 1994 telah dicantumkan istilah pembelajaran berbasis kompetensi atau competency based training (CBT). Namun pelaksanaannya belum optimal. Dan pada tahun 1999 Direktorat Dikmenjur meluncurkan suplemen untuk penyempurnaan pelaksanaan konsep pembelajaran berbasis kompetensi ini. Konsep CBT merupakan gabungan antara pendidikan kentrampilan, pengetahuan, dan sikap.
12
Standar kompetensi itu pun disusun setelah berkonsultasi dengan para pengelola industri, pengelola perusahaan, para pekerja, dan asosiasi profesi. Setiap program keahlian harus memiliki sederet kompetensi. Ukurannya menyangkut pada dua hal, yaitu presisi dan waktu. Misalnya, seorang tenaga kerja cleaning service di sebuah hotel dikatakan memiliki kompetensi jika ia bisa membersihkan toilet dalam waktu 7 menit. Artinya, seseorang dikatakanan kompeten jika ia dapat menyelesaikan pekerjaan di bidangnya dengan cermat, tepat, dan cepat sesuai standar waktu yang telah ditentukan. Kurikulum berbasis kompetensi yang mengacu pada CBT, isinya lebih sederhana dibandingkan dengan kurikulum tahun 1994 yang lalu.
Kurikulum berbasis kompetensi, lebih menekankan pada tujuan (hasil) atau out put nya, dan bukan pada proses yang terlalu mengacu pada text book (buku panduan pelajaran/buku paket). Dalam pelaksanaannya, diberikan pula rekomendasi tahapan-tahapan yang harus dicapai. Namun tahapan ini hanya bersifat acuan saja, dan proses pencapaiannya menjadi tanggung jawab dan kreatifitas sekolah masing-masing. Selain itu, Direktorat Dikmenjur juga memasukkan pelajaran komputer dan kewirausahaan sebagai mata pelajaran wajib bagi semua siswa SMK di seluruh Indonesia.
Pertimbangannya adalah tuntutan kebutuhan yang cukup tinggi dari dunia industri atas kompetensi siswa di bidang komputerisasi dan kewirausahaan. ’Tongkat estafet’ peningkatan mutu lulusan SMK, dilanjutkan Dr. Joko Sutrisno dengan peningkatan kualitas guru kejuruan yang juga dibidani oleh P4TK (Pusat Pengembangan Penataran Pendidik dan Tenaga Kependidikan) melalui program pendidikan dan pelatihan yang diadakan rutin lima tahun sekali dengan jumlah peserta sekitar 4.000 s/d 5.000 orang guru kejuruan.
Joko menuturkan bahwa pelaksanaan diklat selama ini belum mempunyai format yang baku. Untuk kedepan, ia mengharapkan Direktorat Jenderal PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan) dapat membuat format baku pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan dan peningkatan mutu lulusan SMK. Di sisi lain, Direktorat Dikmenjur juga menuturkan masih kurangnya pasokan tenaga guru kejuruan dari lulusan pendidikan guru kejuruan. Selama ini pasokan tenaga guru kejuruan hanya mencapai angka 4.500 pertahun dan masih jauh dari kebutuhan tenaga guru (sebanyak 10.000 orang pertahunnya) di seluruh Indonesia.
Tapi Joko tetap optimis. Direktorat Dikmenjur sedang melakukan penelitian jumlah kebutuhan guru SMK di seluruh Indonesia yang dipandu oleh Universitas Negeri Semarang. “Targetnya diselesaikan akhir tahun 2007. Data kebutuhannya akan lebih detail. Dan pihak kami akan terus mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk menambah jumlah rekrutmen tenaga guru kejuruan,“ tegas Joko.
Perkembangan mutu lulusan SMK kini dipandu oleh kurikulum baru. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penerapannya, dibawah bimbingan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Sekolah sudah bisa improvisasi dalam penyusunan kurikulum. Hal ini mendukung pengembangan bobot jam belajar teori dan ptraktik. Kini, bobot disamakan menjadi sama rata, dan bukan mengurangi jam belajar teori untuk kemudian menggelembungkan waktu belajar praktik.
13
Dalam rangka mendukung upaya peningkatan mutu lulusan SMK, pemerintah mengalokasikan anggaran khusus untuk peningkatan mutu SMK. Tahun 2007, alokasi dananya naik sebesar 50% dibanding tahun 2006, menjadi sekitar Rp 1,6 triliun. Untuk anggaran peningkatan mutu SMK tahun 2008, sudah ada kenaikan mencapai 25% hingga dananya meningkat menjadi Rp 1,9 triliun. Jumlah yang sangat menggembirakan untuk mendukung program peningkatan mutu para lulusannya.Pihak Direktorat Dikmenjur juga sangat optimis terhadap kompetensi lulusan SMK. Joko menjelaskan bahwa sesungguhnya SMK melahirkan para lulusan yang lebih siap adaptasi dan siap latih. “Kami melahirkan para lulusan yang bukan hanya siap kerja saja, tetapi juga cerdas dan kreatif,” ujarnya sedikit berpromosi.
Idealnya pihak dunia usaha, industri, dunia kerja yang lebih berperan menentukan, mendorong, dan menggerakkan pendidikan kejuruan, karena mereka adalah pihak yang lebih berkepentingan dari sudut kebutuhan tenaga kerja.
Asosiasi kejuruan di Indonesia merupakan kumpulan lembaga pendidikan kejuruan (SMK, Program Diploma, Politeknik, FT, FPTK, JPTK, P3G Teknologi dan Kesenian, dan Balai-balai Diklat Industri), serta kumpulan orang-orang sebagai pendidik (guru, instruktur, dosen, widyaiswara) pada lembaga pendidikan teknologi dan kejuruan.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 29 Jakarta dikenal dan merupakan sekolah penerbangan dan tampaknya sekolah di SMK ini tidak hanya mempelajari tentang teori mesin pesawat, namun juga membuat pesawat terbang.
Foto Pesawat Jabiru J200
Saat ini para siswa SMKN 29 ini sudah mampu membuat sebagian kecil komponen pesawat seperti panel horizontal, stabilizer dan engine cowling dan juga sudah mampu membuat pesawat meskipun sebagian besar komponen masih harus diimport.
14
Salah satu hasil karya pesawat buatan siswa SMKN 29 ini telah dipamerkan di Arena Pekan Raya Jakarta, bernama ” Jabiru:J200”.Salah satu dari 4 siswa SMKN 29 yang membuat dan merakit pesawat terbang dengan dua tempat duduk ini, nama Jabiru diambil dari nama burung di Australia.
Selain pesawat tersebut, ternyata para siswa tersebut juga sudah membuat dan merakit lima pesawat terbang lainnya dengan empat tempat duduk dan saat ini disimpan di Lapangan Terbang Pondok Cabe, Tangerang.
Jabiru:J200 yang bermesin tunggal buatan siswa SMKN 29 ini tidak seperti pesawat lainnya yang selalu menggunakan bahan bakar avtur, namun pesawat karya para siswa ini menggunakan bahan bakar pertamax 95 dan memiliki kemampuan terbang selama 8 jam nonstop dengan menghabiskan bahan bakar 140 liter pertamax 95.
Pesawat Jabiru:J200 hasil buatan para siswa SMKN 29 ini telah diuji terbang oleh para instruktur para siswa dari FASI sampai ke Riau dan Kuala lumpur (Malaysia).CPS/GO
Kegiatan Belajar Siswa Jurusan Agribisnis Pertanian
Kegiatan praktikum Kultur Jaringan untuk kelas XI Jurusan Agribisnis Pertanian, dilaksanakan di Laboratorium Kultiur Jaringan SMK Negeri 1 Kuningan. Mata Diklat ini diasuh oleh ibu Hj. Eti Suryati, S.P.
Kegiatan Belajar Siswa Jurusan Produksi Grafika
Siswa kelas XI Jurusan Produksi Grafika SMK Negeri 1 Kuningan, tengah asyik mengikuti praktikum desain grafis di Laboratorium Komputer Grafis.
15
MGMP Bidang Pertanian se_Kabupaten Kuningan
Salah satu sesi acara Pendidikan dan Pelatihan untuk meningkatkan Kompetensi Guru dalamkegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bidang Pertanian se-Kabupaten Kuningan adalah presentasi Penyusunan PTK oleh Bapak Drs. Slamet Mulyana, M.Pd. (dari LPMP). Acara berlangsung dari tanggal 1 September sampai dengan 3 September 2009, di Gedung Bumi Mulya SMK Negeri 1 Kuningan. Kegiatan ini di hadiri para guru SMK khususnya bidang Pertanian se-Kabupaten Kuningan.
Mengajar dan Berbisnis di SMK
Semenjak tahun 1980-an SMK Negeri yang dibina oleh PPPG di lingkungan kejuruan telah merintis program kewirausahaan melalui unit produksi. Unit Produksi (UP) merupakan suatu badan usaha di lingkungan sekolah yang diselenggarakan untuk : (1) memberi kesempatan kepada siswa dan guru untuk mengerjakan pekerjaan praktek yang berorientasi pada kebutuhan pasar, (2) mendorong siswa dan guru dalam hal pengembangan wawasan ekonomi dan kewiraswataan, (3) memperoleh tambahan dana bagi penyelenggaraan pendidikan, (4) meningkatkan pendayagunaan sumber daya pendidikan yang ada di sekolah, (5) meningkatkan kreativitas siswa dan guru, (6) unit produksi sebagai tempat magang bagi siswa dan guru SMK, sehingga mampu bekerja seperti tenaga industri/dunia usaha (Dikmenjur, 1997).
Untuk mendukung pegembangan sekaligus memacu UP Sekolah, pihak Direktorat Dikmenjur telah memberikan bantuan ke beberapa SMKN kelompok Teknologi dan Pertanian baik melalui bantuan Indonesia-Australia Technical and Vocational Education Project (IATVEP A) maupun melalui dana pinjaman dari Asean Development Bank (ADB) melalui proyek PKT-III.
16
Unit produksi merupakan salah satu bentuk usaha yang bersifat bisnis yang diharapkan dapat mendatangkan keuntungan ganda (finansial maupun bukan finansial). Bukan finansial berupapeningkatan keterampilan bagi guru dan siswa serta hubungan antara sekolah dengan masyarakat (perusahaan/industri). Oleh karenanya, unit produksi perlu dikelola dengan serius dan profesional sebagaimana usaha bisnis yang berorentasi pada keuntungan (profit oriented). (Guru valah, 2003)
Keberhasilan unit produksi disuatu sekolah tidak lepas dari peran para pengelola mulai dari kepala sekolah, guru, pegawai dan siswa yang terlibat dalam aktivitas unit produksi. Pengelolaan UP idealnya dimulai dari membuat komitmen sebagai acuan dan motivasi dalam menjalankan usaha di UP. Para pengelola UP diharapkan mampu menganalisis peluang, serta menciptakan keunggulan kompetitif dan komparatif, untuk itu diperlukan diperlukan wawasan yang luas, serta kemampuan menjual untuk mendapatkan mitra kerja yang potensial, selain itu juga mempunyai komitmen yang kuat terhadap kemandirian sekolah.
Peran Kepala Sekolah dalam memberdayakan unit produksi sekolah sebagai berikut : a) Kepala Sekolah dapat menganalisis peluang bisnis yang berkembang dilingkungan sekolah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, b) Kepala Sekolah mampu mempromosikan sekolah melalui kegiatan promosi dengan ikut berpartisipasi pada event-event yang digelar oleh pemerintah maupun kalangan bisnis, c) Kepala Sekolah mampu melakukan terobosan-terobosan baru yang diiringi oleh kemampuan dan percaya diri yang tinggi, d) Kepala Sekolah mampu mandiri dalam menuju kemandirian sekolah, langkah awal dari usaha ini adalah dengan memberdayakan unit produksi. Disamping itu dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan, Kepala Sekolah selaku manajer pendidikan harus dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang dipimpin tanpa mengabaikan kebijakan dalam pendidikan seperti konsep : Manajemen Berbasis Sekolah, Pendidikan Berbasis Masyarakat, Pelaksanaan Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi dan dilanjutkan dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). (Guru valah, 2003)
Bagi guru, UP dapat dijadikan sebagai sarana untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan sesuai dengan keahlian masing-masing. Disamping itu usaha yang dilakukan di UP menjadi bahan evaluasi implementasi antara pembelajaran yang diberikan kepada siswa dengan kenyataan yang terjadi pada dunia sesungguhnya di lapangan / masyarakat. Guru sebagai motor penggerak jalannya usaha di UP dituntut untuk lebih menguasai teknis dan proses produksi dari usaha yang dijalankan sesuai dengan standar pasar. Dengan demikian diharapkan dapat muncul suatu produk-produk unggulan yang benar-benar dapat memiliki nilai tambah sehingga laku ddijual dan mampu bersaing di pasaran.
Sejak 8 tahun UP di SMK Negeri 1 Kuningan berdiri, kini muncul sosok guru yang berhasil sebagai wirausahawan. Eman Sulaeman yang akrab disapa rekan-rekannya “Pak Haji” adalah guru Program Keahlian Budidaya Ternak yang telah membuktikan dan menikmati manfaat dari adanya UP di sekolah. Berangkat dari Rp.2 juta mengelola dana UP, dengan berbekal kejujuruan, keuletan dan disiplin yang tinggi Pak Haji bersama anak didiknya mengelola usaha ternak ayam ras pedaging hingga kini berhasil menjadi salah satu peternak besar di Kabupaten Kuningan.
Keberhasilan unit produksi disuatu sekolah tidak lepas dari peran para pengelola mulai dari kepala sekolah, guru, pegawai dan siswa yang terlibat dalam aktivitas unit produksi. Pengelolaan UP idealnya dimulai dari membuat komitmen sebagai acuan dan motivasi dalam menjalankan usaha di UP. Para pengelola UP diharapkan mampu menganalisis peluang, serta menciptakan keunggulan kompetitif dan komparatif, untuk itu diperlukan diperlukan wawasan yang luas, serta kemampuan menjual untuk mendapatkan mitra kerja yang potensial, selain itu juga mempunyai komitmen yang kuat terhadap kemandirian sekolah.
Peran Kepala Sekolah dalam memberdayakan unit produksi sekolah sebagai berikut : a) Kepala Sekolah dapat menganalisis peluang bisnis yang berkembang dilingkungan sekolah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, b) Kepala Sekolah mampu mempromosikan sekolah melalui kegiatan promosi dengan ikut berpartisipasi pada event-event yang digelar oleh pemerintah maupun kalangan bisnis, c) Kepala Sekolah mampu melakukan terobosan-terobosan baru yang diiringi oleh kemampuan dan percaya diri yang tinggi, d) Kepala Sekolah mampu mandiri dalam menuju kemandirian sekolah, langkah awal dari usaha ini adalah dengan memberdayakan unit produksi. Disamping itu dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan, Kepala Sekolah selaku manajer pendidikan harus dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang dipimpin tanpa mengabaikan kebijakan dalam pendidikan seperti konsep : Manajemen Berbasis Sekolah, Pendidikan Berbasis Masyarakat, Pelaksanaan Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi dan dilanjutkan dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). (Guru valah, 2003)
Bagi guru, UP dapat dijadikan sebagai sarana untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan sesuai dengan keahlian masing-masing. Disamping itu usaha yang dilakukan di UP menjadi bahan evaluasi implementasi antara pembelajaran yang diberikan kepada siswa dengan kenyataan yang terjadi pada dunia sesungguhnya di lapangan / masyarakat. Guru sebagai motor penggerak jalannya usaha di UP dituntut untuk lebih menguasai teknis dan proses produksi dari usaha yang dijalankan sesuai dengan standar pasar. Dengan demikian diharapkan dapat muncul suatu produk-produk unggulan yang benar-benar dapat memiliki nilai tambah sehingga laku ddijual dan mampu bersaing di pasaran.
Sejak 8 tahun UP di SMK Negeri 1 Kuningan berdiri, kini muncul sosok guru yang berhasil sebagai wirausahawan. Eman Sulaeman yang akrab disapa rekan-rekannya “Pak Haji” adalah guru Program Keahlian Budidaya Ternak yang telah membuktikan dan menikmati manfaat dari adanya UP di sekolah. Berangkat dari Rp.2 juta mengelola dana UP, dengan berbekal kejujuruan, keuletan dan disiplin yang tinggi Pak Haji bersama anak didiknya mengelola usaha ternak ayam ras pedaging hingga kini berhasil menjadi salah satu peternak besar di Kabupaten Kuningan.
17
Di usianya yang menginjak kepala 4, Eman Suleman sudah berangkat ke Tanah Suci, memiliki kendaraan kijang kapsul investasi tanah dan kandang serta kini tengah membiayai 2 anaknya di perguruan tinggi.Satu sosok lagi, guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes), Drs. AA Suwita sudah 3 tahun menggeluti usaha produksi jamu dari bahan umbi-umbian. . Berkat ketekunannya sekarang sudah mengantongi hak cipta dari Deperindag dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan. Usaha jamunya yang dikenal “Jamu Sarimbi” kini menjadi salah satu produk unggulan SMK Negeri 1 Kuningan. Produknya sudah menyebar ke berbagai daerah, bahkan para pelanggan berdatangan bukan saja dari Kuningan namun banyak juga pelanggan dari luar Kuningan, seperti Cirebon, Majalengka, Ciamis, Brebes Bandung dan Jakarta. Bapak Wawan dan Bapak Jajat Asesor akreditasi di sekolah kami, pada bulan awal bulan September 2007 sempat merasakan dan mengakui kenikmatan dan khasiat jamu Sarimbi, bagaimana dengan anda….? Kami tunggu …..
Guru-Guru dan pegawai lain pun kini tengah asyik menjalankan usahanya sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Kesejahteraan bagi sekolah memang tidak bisa datang begitu saja tanpa kita berihtiar yang tulus dan doa yang khusyu. Nah bagi rekan para pendidik terutama bagi mereka yang sudah memiliki UP di sekolahnya mari kita berdayakan UP kita sehingga benar-benar dapat memberikan manfaat bagi kita, keluarga, sekolah dan masyarakat tentunya. Sambil mengajar, juga mengapa tidak bisa sambil berbisnis di sekolah ?
SMK Mampu Rakit Laptop Berkualitas
Advan SMK adalah merek yang dipakai untuk laptop hasil rakitan siswa SMK Negeri 4 Bandung. Walaupun hasil rakitan dari siswa-siswi SMK, laptop ini berani diadu dengan hasil pabrikan.
18
"Kita pernah tes. Dari 15 unit laptop yang kita rakit, kita panteng 10 jam masih kuat. Hanya satu unit saja yang nge-hang. Itupun karena ada komponen yang kurang kuat dipasangnya,"laptop tersebut adalah hasil dari program yang digelar oleh Direktorat Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) dengan Advance. Dari ribuan SMK yang ada di Indonesia, hanya 32 SMK yang dilibatkan dalam program ini. Di Jabar, SMKN 4 salah satu SMK yang terpilih.
"Ini program Direktorat. Kita, sekolah berusaha untuk sebaik-baiknya melaksanakan program ini. Karena dana yang diterima juga cukup besar yakni Rp 400 juta.
Dana sebanyak itu, dipergunakan untuk membeli komponen laptop yang kemudian akan dipergunakan untuk latihan merakit laptop di laboratorium komputer milik sekolah yang beralamat di Jalan Kliningan ini.
"Dana itu kita belikan komponen ke Advance. Lalu komponen itu kita pakai siswa untuk praktek merakit mengenai kualitas rakitan siswa tersebut, menegaskan bahwa kualitas produk miliknya dengan yang ada di pasaran sama. Karena sebelum di
pasarkan, laptop hasil rakitan tersebut dites dan harus melalui uji kelayakan terlebih dahulu.
Sejak Desember, siswa SMK ini mampu merakit 40 unit laptop. Ada 2 jenis yang mereka rakit. Tipe yang pertama adalah Netbook Vanbook yang dijual Rp 3 juta dan Notebook tipe G2T-65S seharga Rp 5,5 juta.
"Memang kami selisih Rp 50.000 sampai Rp 100.000 dengan tipe yang sama di pasaran. Tapi kan ini adalah hasil anak-anak kita. Untungnya juga buat kemajuan
mereka.
Perbedaan SMA dan SMK adalah :
SMA | SMK |
Ditujukan untuk siswa yang akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi
|
Ditujukan untuk siswa yang mau bekerja dan melanjutkan ke perguruan tinggi
|
Kurikulum SMA lebih banyak teori dari pada praktek
|
Kurikulum SMK lebih banyak praktek dari pada teori
|
Tamatannya tidak siap kerja dan tidak mandiri
|
Tamatannya siap kerja dan mandiri
|
Tempat belajar hanya di sekolah
|
Tempat belajar di sekolah dan dunia kerja
|
1. Kondisi perekonomian Indonesia yang belum bagus.
Minggu lalu harga BBM naik lagi. Kenaikan harga BBM ini memicu kenaikan harga barang dan jasa yang lain. Harga kebutuhan pokok melonjak, biaya angkutan juga merangkak naik tetapi pendapatan masyarakat tetap. Hal ini menyebabkan beban ekonomi masyarakat semakin berat. Kondisi tersebut menyebabkan biaya untuk pendidikan anak semakin susah untuk dipenuhi. Untuk itu, menyekolahkan anak dalam jangka waktu yang lama tentu sangat memberatkan orang tua. Solusi untuk mengatasi keadaan tersebut adalah dengan menyekolahkan anak di sekolah yang lulusannya cepat dapat kerja tetapi tidak membutuhkan waktu lama. Sekolah tersebut adalah SMK karena hanya butuh waktu 3 tahun untuk dapat bekerja atau berwiramandiri. Sementara jika mengambil sekolah di SMA butuh waktu 8 tahun untuk dapat bekerja yakni 3 tahun di SMA dan 5 tahun di PT.
Minggu lalu harga BBM naik lagi. Kenaikan harga BBM ini memicu kenaikan harga barang dan jasa yang lain. Harga kebutuhan pokok melonjak, biaya angkutan juga merangkak naik tetapi pendapatan masyarakat tetap. Hal ini menyebabkan beban ekonomi masyarakat semakin berat. Kondisi tersebut menyebabkan biaya untuk pendidikan anak semakin susah untuk dipenuhi. Untuk itu, menyekolahkan anak dalam jangka waktu yang lama tentu sangat memberatkan orang tua. Solusi untuk mengatasi keadaan tersebut adalah dengan menyekolahkan anak di sekolah yang lulusannya cepat dapat kerja tetapi tidak membutuhkan waktu lama. Sekolah tersebut adalah SMK karena hanya butuh waktu 3 tahun untuk dapat bekerja atau berwiramandiri. Sementara jika mengambil sekolah di SMA butuh waktu 8 tahun untuk dapat bekerja yakni 3 tahun di SMA dan 5 tahun di PT.
- Banyak lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi
Kurang dari 10 % lulusan SMA yang melanjukan kuliah di PT, padahal kurikulum SMA disetting untuk melanjutkan sekolah di PT. Ini tentu sangat ironis karena hampir 90% tamatan SMA terjun di dunia kerja padahal kurikulum SMA tidak disiapkan untuk bekerja. Akibatnya banyak lulusan SMA yang kalah bersaing dalam mencari pekerjaan karena mereka memang tidak siap kerja. Oleh karena itu, pemerintah mengambil kebijakan untuk menambah jumlah SMK daripada mengembangkan SMA. Komposisi perbandingan yang dibuat adalah 70% SMK dan 30% SMA. Ini tentu dengan tujuan untuk menjadikan lulusan sekolah menengah yang siap kerja dan mandiri. - Dunia kerja yang semakin kompetitif
Kenaikan BBM menyebabkan banyak perusahaan yang mengurangi jumlah karyawan sehingga terjadi PHK besar-besaran. Kondisi ini meyebabkan para pencari kerja semakin banyak sementara lowongan kerja semakin sedikit. Sehingga persaingan dalam memperebutkan lowongan pekerjaan semakin ketat. Ketatnya persaingan mencari kerja menjadikan tamatan sekolah menengah harus orang yang kompeten di bidangnya dan siap kerja. SMK sangat piawai dalam mencetak lulusan yang siap kerja dibanding SMA.
Akhirnya jangan gengsi untuk memilih SMK dan bukan saatnya mengatakan bahwa SMK adalah sekolah menengah kelas dua. Dengan motto cerdas, siap kerja dan kompetetitif SMK siap mencetak lulusan yang siap kerja dan mandiri.
SMK DAN PERMASALAHANNYA
SMK merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bertanggungjawab untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan, keterampilan dan keahlian, sehingga lulusannya dapat mengembangkan kinerja apabila terjun dalam dunia kerja. Pendidikan SMK itu sendiri bertujuan “meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, serta menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap profesional”.
20
Apapun jenis pendidikan pada Sekolah Menengah Kejuruan tidak lain muara dari lulusannya agar mereka memiliki kemampuan, keterampilan serta ajli di dalam bidang ilmu tertentu.Selanjutnya mampu dan terampil diaplikasi untuk dunia kerja. Oleh sebab itu, hakiki dari Sekolah Menengah Kejuruan sangat berbeda dengan SMU/SMA.
Ada dua hal sebenarnya kelebihan dari Pendidikan Menengah Kejuruan ini, pertama lulusan dari institusi ini dapat mengisi peluang kerja pada dunia usaha/industri, karena terkait dengan satu sertifikasi yang dimiliki oleh lulusannya melalui Uji Kemampuan Kompetensi. Dengan sertifikasi tersebut mereka mempunyai peluang untuk bekerja. Kedua, lulusan Pendidikan Menengah Kejuruan dapat untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi, sepanjang lulusan tersebut memenuhi persyaratan, baik nilai maupun program studi atau jurusan sesuai dengan kriteria yang dipersyaratkan.
Sekolah Menengah Kejuruan ke depan akan berkembang, sejalan dengan keinginan pemerintah untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendirikan sekolah. Karena dengan pola Otonomi Pendidikan yang diberlakukan seperti sekarang ini, maka masyarakat juga memiliki tanggungjawab moral untuk memikirkan dan menumbuhkembangkan pendidikan. Sehingga lebih dikenal dengan Pendidikan Berbasiskan Masyarakat (community based education).
Terlihat dan teramati di lapangan, dengan banyak jumlah Sekolah Menengah Kejuruan yang berdiri, baik di kota propinsi maupun kabupaten kota, menimbulkan fenomena baru, yakni kekurangan tenaga pengajar, khususnya untuk bidang ilmu teknologi dan bisnis.
Coba kita bayangkan, kelipatan jumlah SMK Negeri dengan SMK Swasta suatu ketika khususnya di Riau bisa satu berbanding lima (1:5), artinya satu SMK negeri lima SMK swasta. Sehingga bermunculah SMK-SMK Swasta dengan berbagai jenis dan program pendidikan, mulai dari program teknologi, bisnis, pariwisata dan perhotelan, pertanian, perikanan, komputer, tata boga/busana, dan lain sebagainya.
Dari kondisi ini, perlu kita simak, dengan bermunculan begitu banyak SMK-SMK tersebut, apakah sudah terpikirkan oleh kita, unsur pelaksana lapangan, atau orang yang bertanggungjawab untuk mendidik, mengajar dan melatih mereka, dalam hal ini “guru”. Karena salah satu persyaratan untuk pendirian sekolah swasta, tidak terlepas dari persyaratan formal adalah tenaga pengajar.
Tenaga pengajar (guru) merupakan faktor dominan di dalam memberian izin pembukaan sekolah swasta. Kita menyadari bahwa ke depan SMK Kejuruan merupakan lembaga yang akan diminati oleh lulusan SLTP, karena dalam persaingan era globalisasi dan pasar bebas, sangat diperlukan siswa yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang siap bina dan siap pakai. SMK Kejuruanlah sebagai salah satu lembaga yang menelorkan seperti yang diinginkan oleh dunia kerja.
Tapi, tentunya kita jangan melupakan unsur utamanya yakni guru, apakah guru-guru sebagai pelaksana lapangan sudah dimiliki oleh SMK tersebut ? Kalah kita mau jujur, jumlah guru-guru SMK yang ada dengan jumlah SMK yang ada tidak seimbang, artinya SMK masih kekurangan banyak tenaga guru di semua bidang keilmuan.
21
Bila kita menilik ke belakang, artinya lebih di fokuskan kepada LPTK sebagai pencetak tenaga guru, khususnya pada sekolah kejuruan, sangat, sangat tidak memadai. Oleh sebab itutidak heran bila kita melihat satu orang guru mengajar untuk tiga atau empat sekolah kejuruan. Selama ini, kita menerima lulusan LPTK di luar Riau, katakanlah dari Sumatera Barat, Medan, Pulau Jawa, dan sebagainya.
Jujur kita katakan bahwa, hal ini merupakan salah satu kepihatinan dari kepala sekolah, dan ini akan menjadi pemikiran kita bersama. Bila secara bersama kita mendukung mengapa tidak, kita bisa membuka program-program studi teknologi, bisnis dan perdagangan, kesejahteraan keluarga, dan program-program inilah mendesak untuk dipikirkan. Tentunya untuk membuka program studi-program studi tersebut memiliki persyaratan-persyaratan, dan apa yang menjadi keluhan para kepala sekolah tersebut akan menjadi pekerjaan rumah yang harus dipikirkan dan diwujudkan.
22
BAB III PENUTUP
1.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa :
1.Kualitas dan kauntitas pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan dapat dikatakan sedikit lebih maju dari pada Sekolah Menengah Atas,karena SMK selain dapat mencetak lulusan yang siap melanjtkan ke perguruan tinggi,SMK juga dapat mencetak lulusan yang siap kerja didandingkan dengan SMA.
2.Bedasarkan pembahasan diatas tidak hanya siswa SMA saja yang mamapu berprestasi,tanpa disadari siswa SMK pun juga bisa,pembuktiannya siswa sma mampu merakit laptop bahkan merakit sekaligus memebuat pesawat terbang.
3.Lulusan SMK sebagian besar tamatannya siap kerja dan mandiri,berbeda dengan SMA yang tamatannya belom siap kerja dan belom bisa mandiri,karena siswa SMK lebih banyak belajar langsung(praktek)dibanding SMA yang lebih banyak teorinya.
4.Peningkatan mutu SMK juga banyak tergantung Pemerintah Pusat maupun Daerah, karena kurang ada perhatian yang memadai terhadap SMK, sebagaimana sudah diuraikan di atas. Keadaan itu menimbulkan suasana seakan-akan SMK adalah pendidikan kelas buntut, karena yang diperhatikan hanya SMA dan SMP.
23
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar